Tampilkan postingan dengan label Psychology. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psychology. Tampilkan semua postingan

15 April 2016

Self Management

Pengertian Self Management
Self-management adalah strategi individu untuk mempengaruhi dan meningkatkan tingkah lakunya ke arah yang lebih baik. Self-management dapat disebut sebagai self-control, berdasarkan dari teori belajar sosial Self-management lebih tepat diklasifikasikan sebagai teori motivasi daripada teori kepemimpinan, tetapi dapat dipandang sebagai bagian dari kepemimpinan. Yang terkait dalam manajemen diantaranya adalah strategi dan kepemimpinan.
Cukup banyak kata-kata bijak mengatakan betapa perang terbesar adalah melawan diri sendiri, menjadi pemimpin untuk diri sendiri, seperti yang dikatakan Plato bahwa, “The first and the best victory is to conguer self” dan salah satu hadisnya Nabi Muhammad mengatakan perang terbesar umat manusia adalah perang melawan hawa nafsu. Hawa nafsu disini dapat sebagai keinginan dan kesenangan yang muncul dari dalam diri sendiri ataupun tidak.
Menurut Gede Prama “ Manajemen diri adalah suatu ilmu yang hidup, yang lahir, tumbuh, dan bercabang saat dibenturkan, diuji dalam kehidupan”. Sedangkan menurut pandangan lain manajemen diri berkaitan dengan bagaimana kita sebagai manusia memahami siapa diri kita dan bagaimana mengelolanya. Memahami diri, adalah perintah Tuhan dalam Al-Quran yang turun pertama kali, “ Bacalah, dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah “. (Al-Alaq, 1-2). Tuhan tidak menurunkan wahyu pertamanya berupa ayat-ayat tentang penciptaan langit dan bumi, tetang akhlak, atau tentang perintah shalat dan puasa, tapi meminta kita untuk mempelajari lebih dahulu siapa diri kita sebenarnya. “Dari mana kita diciptakan?” yang tentu saja dengan berpikir kritis pertanyaan kita akan berlanjut menjadi “untuk apa kita hidup?” dan “kemanakah kita akan berakhir?”. Namun pertanyaan-pertanyaan ini hendaknya tetap dalam kerangka iman kepada Allah sesuai dengan maksud surat Al-Alaq tersebut di atas. Dengan memahami diri, kita akan mengenali resource-resource utama yaitu pikiran (mind), tubuh (body) dan hati (heart). Ketiga resource yang kita miliki keberadaannya sangat terbatas, oleh karena butuh pengelolaan yang tepat atau disebut bentuk self-management.
Pikiran (mind) adalah resource yang berkembang sesuai usia, pengalaman, pendidikan, dan hasil pembelajaran diri dan secara dinamis membentuk paradigma, yaitu respon dan persepsi kita terhadap suatu informasi atau peristiwa. Bagaimana mengelola pikiran, adalah dengan tidak berhenti belajar. Hidup adalah sekolah yang sebenarnya, dimana kita adalah pelajar yang aktif mencari informasi, belajar dari pengalaman, dan mengikuti semua ujian hidup dengan persiapan mental yang cukup dan ilmu yang utuh. Mengelola pikiran juga berarti senantiasa berpikir posistif, artinya mampu mengambil hikmah dari suatu peristiwa dan menjadikannya sebagai referensi dalam paradima kita. Dengan mengelola pikiran dengan tepat, kita akan memiliki kebijaksanaan dan keluasan wawasan berpikir yang akan menjadi modal dalam menjalankan tugas-tugas dan peran diri kita di dalam dunia ini.
Sesuai pertambahan usia, fungsi tubuh (body) punya keterbatasan tertentu, sehingga resource ini pun perlu dikelola dengan tepat. Mengelola tubuh terkait dengan bagaimana kita menghargai dan menjaga tubuh kita secara fisik dengan cara menerapkan pola makan dan pola hidup seimbang, diantaranya adalah menjauhkan diri dari makanan dan minuman yang tidak bermanfaat, tidak memforsir diri dalam bekerja, dan cukup berolahraga. Sehingga tujuan dari manajemen ini adalah memperoleh kesehatan dan kebugaran yang tentunya akan membuat nyaman dan memudahkan kita untuk beraktifitas.
Manajemen hati (heart) adalah bagaimana kita mengelola dan menjaga hati kita agar senantiasa bersih, tidak dikotori dan diracuni oleh sikap dan tingkah laku yang merusak. Hati yang bersih ditandai dengan rasa bahagia yang survive dalam setiap keadaan, baik dalam keadaan nyaman, cukup dan lapang juga dalam keadaan kurang, menderita bahkan dalam kekecewaan. Dan sesuai ajaran banyak agama di dunia bahea menjaga hati diantaranya adalah dengan memberi, melayani, bersyukur, bersabar, dan pasrah pada Tuhan.
Ketiga resource tersebut diatas saling mendukung dan berkoordinasi. Selain itu suatu penelitian empiris telah membuktikan bahwa pikiran yang tidak di-manage dengan baik., menjadi penyebab terbesar penyakit-penyakit psikosomatis yang tentunya akan mengganggu dan mempengeruhi kesehatan di dalam tubuh kita. Pada akhirnya, seseorang yang mampu memahami dan mengelola diri dengan baik, akan lebih besar peluangnya untuk sukses memimpin dirinya, serta ikut berperan dan memberikan kontribusi posistif dalam masyarakat.

Strategi Self-Management
Self-Management terdiri dari strategi tingkah laku dan strategi kognitif. Strategi tingkah laku pada self-management berguna ketika seseorang membutuhkan dorongan untuk melakukan sesuatu yang enggan dia lakukan. Seseorang harus realistis dalam membuat tujuan untuk menyelesaikan suatu tugas atau mengubah suatu tingkah laku.
Pantau tingkah laku dirimu dengan mencatat apa yang kamu lakukan atau katakan dan perhatikan apa reaksi orang-orang disekitarmu. Sebagai contoh, perhatikan setiap kata yang kamu ucapkan yang tidak disukai orang lain. Setelah itu, cobalah cara lain untuk berkomunikasi dengan orang lain yang membuat orang lain menyukai dirimu.
Cara lain dalam strategi tingkah laku adalah memuji diri sendiri apabila telah menyelesaikan suatu atau ketika kamu dapat menyelesaikan suatu tugas yang sulit. Berikan ganjaran pada dirimu jika kamu melakukan sesuatu yang salah. Contohnya adalah setelah membuat suatu kesalahan, gunakan waktu tambahan untuk memperbaiki kesalahan tersebut. Seseorang bisa melatih dirinya untuk meningkatkan keahlian dan membangun kepercayaan diri. Susun kembali petunjuk yang berhubungan dengan lingkungan fisik, ubahlah tingkah laku yang tidak diperlukan dengan tingkah laku yang diperlukan.
Yang selanjutnya adalah strategi kognitif. Strategi ini membantu seseorang untuk membangun kepercayaan diri dan optimisme akan suatu tugas yang sulit. Salah satu strategi kognitif yang sangat membantu adalah selalu berpikir positif, selalu optimis dan menjauhi pikiran negatif, ataupun pikiran pesimis. Sebagai contoh, memandang situasi sulit sebagai kesempatan daripada sebagai masalah. Kepercayaan diri dan kebulatan tekad dibutuhkan untuk meningkatkan self-management agar kita dapat memusatkan pikiran akan apa yang dapat kita lakukan untuk membuat sesuatu yang lebih baik daripada terus memikirkan sesuatu sulit. Selain itu juga, kita harus selalu menjauhkan diri dari pikiran negatif dan mengenal pemikiran yang dapat menghancurkan lalu mengganti pemikiran tersebut dengan pemikiran yang dapat membangun.
Strategi kognitif selanjutnya adalah mental imagery, yang dapat digunakan untuk melatih diri kita dalam melakukan tugas yang sulit. Pertama, bayangkan dirimu sedang mengerjakan tugas. Lalu bayangkan perasaan dan kepuasan yang akan muncul jika kamu telah berhasil melakukan sesuatu.
Bagaimana Pemimpin Memberikan Semangat Self-Management
Sebagai seorang pelaku manajemen dalam suatu struktur organisasi, diperlukan suatu sifat kepemimpinan yang tentu saja hanya dapat secara efektif dimiliki oleh seorang yang sukses dalam me-manage dirinya sendiri. Seorang pemimpin dapat melakukan beberapa hal untuk memberikan semangat self-management kepada bawahannya. Memberikan semangat sangat penting karena bawahan sangat tergantung pada pemimpin.
Aktifitas kepemimpinan termasuk menjelaskan bagaimana pemikiran self-management, menjelaskan bagaimana berperilaku dan strategi kognitif self-management, memberikan semangat merupakan upaya untuk menggunakan teknik ini, dan menyediakan cukup otonomi agar self-management dapat dipraktekkan. Pemimpin harus memberi informasi kepada bawahannya, termasuk informasi tentang rencana strategi dan keuangan organisasi. Sebagai bawahan yang mengembangkan keterampilan dan percaya diri dalam self-management, pemimpin harus memberikan semangat kepada bawahan agar pekerjaan mereka lebih baik.

04 Januari 2009

4 tipe kepribadian

Tak ada manusia yang sama, walupun anak kembar sekalipun. Yah, kita diciptakan dengan membawa karakter masing-masing. Individu dapat mewarisi karakter orang tuanya, namun dapat tumbuh, berkembang, dan mengalami modifikasi karena pengaruh lingkungan (soalnya gw penganut behaviorism,hehe..)
Florence Litteur dalam bukunya personality plus mengemukakan ada empat pola watak dasar manusia, yaitu sanguinis, melankolis, koleris dan plegmatis. Semua manusia pada dasarnya memiliki keempatnya, namun pasti ada salah satu yang dominan, atau ada dua tipe gabungan yang dominan. Tidak ada tipe yang lebih baik dan tipe yang buruk, semuanya memiliki kelebihan dan kelemahan. Menurut Florence, tak ada yang paling baik. Semuanya baik. Tanpa orang sanguinis, dunia ini akan terasa sepi. Tanpa orang melankoli, mungkin tak ada kemajuan di bidang riset, keilmuan dan budaya. Tanpa kaum koleris, dunia ini akan berantakan tanpa arah dan tujuan. Tanpa sang phlegmatis, tiada orang bijak yang mampu mendamaikan dunia.
Walaupun katanya 4 tipe kepribadian ini sudah mulai ditinggalkan, tapi jika kita dapat memahami tipe kebribadian apa yang dimiliki oleh kita dan orang-orang disekitar kita, maka kita akan dapat lebih baik dalam menjalin hubungan dengan mereka.

Berikut penjelasan dari keempat tipe kepribadian tersebut
SANGUINIS
Sanguin 'yang populer', ya mereka cenderung ingin populer, ingin disenangi oleh orang lain. Hidupnya penuh dengan bunga warna-warni. Mereka senang sekali bicara tanpa bisa dihentikan. Gejolak emosinya bergelombang dan transparan. Antusias dan ekspresif. Ceria dan penuh rasa ingin tahu. Hidup di masa sekarang. Mudah berubah karena banyak kegiatan dan keinginan. Berhati tulus dan kekanak-kanakan. Senang bertemu banyak orang. Umumnya hebat di permukaan. Mudah berteman dan menyukai orang lain. Senang dengan pujian dan ingin menjadi perhatian. Menyenangkan. Mudah memaafkan dan tidak menyimpan dendam. Mudah mengambil inisiatif untuk menghindar dari hal-hal atau keadaan yang membosankan. Menyukai hal-hal yang spontan.

Namun orang-orang sanguinis ini sedikit agak pelupa, sulit berkonsentrasi, cenderung berpikir pendek, dan hidupnya serba tak beratur. Kemungkinan besar ia pun kurang mampu berdisiplin dengan waktu, sering lupa pada janji apalagi bikin planning. Suara dan tertawa yang keras (terlalu keras). Membesar-besarkan suatu hal atau kejadian. Susah untuk diam. Mudah ikut-ikutan atau dikendalikan oleh keadaan atau orang lain. Sering minta persetujuan, termasuk hal-hal yang sepele. Jika diminta untuk mengerjakan sesuatu awalnya saja antusias, tapi dapat dengan mudah melupakan kewajibanya. Mudah berubah-ubah (plin-plan). Susah datang tepat waktu. Prioritas kegiatan kacau. Mendominasi percakapan, suka menyela dan susah mendengarkan dengan tuntas. Sering mengambil permasalahan orang lain, menjadi seolah-olah masalahnya. Egoistis. Sering berdalih dan mengulangi cerita-cerita yg sama. Konsentrasi ke "How to spend money" daripada "How to earn/save money".

MELANKOLIS
Melankoli 'yang sempurna'. Orang melankolis cenderung serba teratur, rapi, terjadwal, tersusun sesuai pola. Umumnya mereka ini suka dengan fakta-fakta, data-data, angka-angka dan sering sekali memikirkan segalanya secara mendalam. Dalam sebuah pertemuan, orang melankoli cenderung menganalisa, memikirkan, mempertimbangkan, lalu kalau bicara pastilah apa yang ia katakan betul-betul hasil yang ia pikirkan secara mendalam sekali. Artistik, musikal dan kreatif. Sensitif. Mau mengorbankan diri dan idealis. Standar tinggi dan perfeksionis. Senang perincian, tekun, serba tertib. Hemat. Melihat masalah dan mencari solusi pemecahan kreatif (sering terlalu kreatif). Kalau sudah mulai, dituntaskan. Berteman dengan hati-hati. Puas di belakang layar, menghindari perhatian. Mau mendengar keluhan, setia dan mengabdi. Sangat memperhatikan orang lain.
Namun kelemahan orang melankolis adalah mereka cenderung melihat masalah dari sisi negatif, merasa murung dan tertekan. Pendendam. Mudah merasa bersalah dan memiliki citra diri rendah. Lebih menekankan pada cara daripada tercapainya tujuan. Tertekan pada situasi yg tidak sempurna dan berubah-ubah. Melewatkan banyak waktu untuk menganalisa dan merencanakan. Standar yang terlalu tinggi sehingga sulit disenangkan. Hidup berdasarkan definisi. Sulit bersosialisasi. Tukang kritik, tetapi sensitif terhadap kritik yg menentang dirinya. Sulit mengungkapkan perasaan (cenderung menahan kasih sayang). Rasa curiga yg besar (skeptis terhadap pujian).


KOLERIS
Koleris 'yang kuat'. Orang koleris senang dengan tantangan, suka petualangan, berani menghadapi masalah. Mereka sangat “goal oriented”,tegas, kuat, cepat dan tangkas mengerjakan sesuatu. Baginya tak ada istilah tidak mungkin. Hampir dapat dipastikan apa yang akan ia lakukan akan tercapai seperti yang ia katakan. Sebab ia tak mudah menyerah, tak mudah pula mengalah. Senang memimpin, membuat keputusan, dinamis dan aktif. Sangat memerlukan perubahan dan harus mengoreksi kesalahan. Berkemauan keras untuk mencapai sasaran atau target. Bebas dan mandiri. Memiliki prinsip "Hari ini harus lebih baik dari kemarin, hari esok harus lebih baik dari hari ini". Mencari pemecahan praktis dan bergerak cepat. Mendelegasikan pekerjaan dan orientasi berfokus pada produktivitas. Membuat dan menentukan tujuan. Terdorong oleh tantangan. Tidak begitu perlu teman. Mau memimpin dan mengorganisasi. Biasanya benar dan punya visi ke depan. Unggul dalam keadaan darurat.
Namun mereka ini suka sekali mengatur orang, suka tunjuk-tunjuk atau perintah-perintah orang. Akibat sifatnya yang `bossy’ itu membuat banyak orang koleris tak punya banyak teman. Tidak sabar dan cepat marah. Senang memerintah. Terlalu bergairah dan susah untuk santai. Menyukai kontroversi dan pertengkaran. Terlalu kaku dan keras. Tidak menyukai air mata dan emosi tidak simpatik. Tidak suka yang sepele dan bertele-tele atau terlalu rinci. Sering membuat keputusan tergesa-gesa. Memanipulasi dan menuntut orang lain, cenderung memperalat orang lain. Menghalalkan segala cara demi tercapainya tujuan. Workaholic. Amat sulit mengaku salah dan meminta maaf.

PLEGMATIS
Plegmatis 'yang damai'. Orang tipe ini tak suka terjadi konflik, karena itu disuruh apa saja ia mau lakukan, sekalipun ia sendiri nggak suka. Baginya kedamaian adalah segala-galanya. Jika timbul masalah atau pertengkaran, ia akan berusaha mencari solusi yang damai tanpa timbul pertengkaran. Ia mau merugi sedikit atau rela sakit, asalkan masalahnya nggak terus berkepanjangan. Mudah bergaul, santai, tenang dan teguh. Sabar, seimbang, dan pendengar yang baik. Tidak banyak bicara, tetapi cenderung bijaksana. Simpatik dan baik hati (sering menyembunyikan emosi). Kuat di bidang administrasi, dan cenderung ingin segalanya terorganisasi. Penengah masalah yg baik. Cenderung berusaha menemukan cara termudah. dapat bekerja di bawah tekanan. Menyenangkan dan tidak suka menyinggung perasaan. Rasa humor yg tajam. Senang melihat dan mengawasi. Berbelaskasihan dan peduli. Mudah diajak rukun dan damai.
Namun kaum plegmatis kurang bersemangat, kurang teratur dan serba dingin. Jika diminta untuk mengambil keputusan ia akan terus menunda-nunda. Kurang antusias, terutama terhadap perubahan atau kegiatan baru. Menghindari konflik dan tanggung jawab. Keras kepala, sulit kompromi. Terlalu pemalu dan pendiam. Humor kering dan mengejek (Sarkatis). Kurang berorientasi pada tujuan. Sulit bergerak dan kurang memotivasi diri. Lebih suka sebagai penonton daripada terlibat. Tidak senang didesak-desak. Menunda-nunda dan menggantungkan masalah. Jadi kaum plagmatis "jika didorong atau didesak ngambek, tapi jika dibiarkan ga jalan"

Good luck untuk menemukan tipe kepribadian apakah kamu? dan mancari tipe kepribadian ornag-orang disekitar kamu. Jadi jika kita menemukan orang yang kita ga suka dengan perilaku dan sifatnya, sadarilah bahwa memang seperti itu karakternya, tinggal bagaimana kita menyikapinya agar hubungan kita dengan orang tersebut tetap berjalan dengan baik.

Kalau masih bingung apa tipe kepribadian kamu, coba tes kepribadian ini untuk memberikan gambaran, apa tipe kepribadian kamu. :-)

14 November 2008

anak istimewa

Setiap orang tua ingin anaknya terlahir sempurna, apalagi dengan sang anak, ia tak mau dan tak meminta dilahirkan dengan keadaan yang berbeda dari anak yang lainnya. Namun Allah yang maha adil memiliki rencana lain dibalik itu..

Teringat di sebuah yayasan anak luar biasa tempatku dulu bernaung, berbagi ilmu bersama teman dan sedikit membantu anak-anak yang kurang beruntung untuk dapat menjalankan aktivitasnya layaknya anak-anak normal. Sungguh banyak pelajaran yang dapat kupetik disana. Salah satunya dan yang paling melekat di pikiranku adalah kasih sayang dan kesabaran para orang tua istimewa.

Salah satu Ibu menitipkan anaknya yang mengalami autisma pada yayasan tersebut. Anak tersebut berumur 12 tahun dan berbagai pengobatan medis maupun terapi telah ia jalani, hingga sampai pada tangan kami. Ibu tersebut tak sekedar menitipkan, sebelum meninggalkan ruangan, ibu tersebut berulang-ulang mencium pipi anak perempuannya, dan berulang-ulang pula mengatakan pada kami "Saya titip anak saya ya mbak, kalo ngerengek biasanya minta kacang, ini kacangnya, kalau pipis dia bisa sendiri, kalau ada apa-apa panggil saya ya mbak, saya tunggu diluar.makasih ya mbak..". Dan setelah terapi berjalan beberapa kali, si Ibu tak pernah lupa menanyakan perkembangan si anak. "Mbak hari ini anak saya nakal ga? ada perkembangan apa? dirumah saya harus kasih latihan apa?"

Jika kami beritahu, misalnya "Alhamdulillah bu, anak ibu sudah mulai bagus konsep dirinya, dilatih lagi ya bu dirumah.." Sang Ibu senang bukan main? Aku melihat pancaran kebahagiaan dalam mukanya, walaupun disela kesedihan yang dipendamnya.

Seorang Ibu yang memiliki anak yang istimewa adalah Ibu yang istimewa pula. Dan aku merasa terhormat seorang Ibu istimewa mempercayakan anak istimewanya kepadaku.
Andai keadaannya berubah, sebenarnya aku ingin kembali menemani hari-hari anak-anak istimewa tersebut.. Andai..

15 September 2008

Menyayangi bukan seperti teori Sigmund Freud

Siapa yang nggak tau Sigmund Freud?
Sigmund Freud adalah salah satu tokoh psikoanalisis yang terkenal buangeet..
Orang-orang psikologi pasti udah akrab banget denger nama ini. Nama ini mungkin juga terkenal di kalangan nonpsikologi. Di kalangan psikologi, dia bnayak ditentang oleh tokoh-tokoh lain, karena teorinya yang 'nyeleneh' (nyeleneh ini sih menurut aku. sok-sokan gini gue..hehehe..)
Menurutnya sebagian besar kehidupan/perilaku manusia dipengaruhi oleh alam bawah sadarnya, ibarat gunung es, bagian yang didalem laut itu adalah alam bawah sadar kita dan bagian yang diatas laut (yang keliatan sedikit) itu adalah alam sadar kita. Selain itu juga, semua perilaku manusia itu hanya didasari oleh 2 hal, yaitu sex dan agresi. Seperti contoh seorang dokter itu bukan atas dasar kemanusiaan ia melakukan kerjanya, tapi didasari oleh keinginan meraba-raba tubuh pasiennya (sex) atau karena ia hanya ingin menunjukkan kepada orang lain bahwa ia hebat (agresi).

Disini aku nggak akan ngebahas teorinya terlalu jauh, yang aku pengen bahas disini adalah..
Ayo kita liat sudut pandang orang yang saling menyayangi dari kacamata Sigmund Freud. haha..

Cewek: Kamu bener ga sih sayang sama aku?
Cowok: Ya iya lah sayang..
Cewek: Buktinya apa?
Cowok: Lho.. koq pake nanya bukti segala? kamu nggak percaya ya sama aku? Kalo kamu sayang aku nggak?
Cewek: Ya iya lah. Kamu tuh cowok satu-satunya dihati aku. aku nggak bisa hidup tanpa kamu.
Cowok: Kamu juga.. Eh say, sun-nya dong.. katanya kamu sayang aku..
Cewek: Ih, maunya di sun.. (sambil malu-malu tapi mau)
Cowok: Say, kerumah aku yuk.. lagi sepi nih..
Cewek: Nggak ah.. ngapain?
Cowok: Katanya kamu sayang aku, kalo iya, harus mau dong..
Cewek: Ya udah iya iya mau..

Nah, udah ketauan kan jalan ceritanya kemana? Simak lagi percakapan yang ini ya..

Cowok: Aku sayang sama kamu..
Cewek: Iya aku tau itu. Tapi...
Cowok: Tapi apa? Aku sayang sama kamu dan aku mau kamu jadi pacar aku
Cewek: Tapi aku nggak bisa jadi pacar kamu.
Cowok: Kenapa? katanya kamu sayang sama aku.
Cewek: Ya iya aku sayang sama kamu, tapi nggak sebagai pacar.
Cowok: Ah, Ya udah.. (Dalem hatinya: liat aja nanti aku pasti dapetin kamu)

Keliatan kan dua percakapan diatas kalo perilaku mereka didasari oleh sex dan agresi.
Sedangkan saling menyayangi tuh bukan kayak gitu. Kalo gitu sih namanya, yang pertama nafsu, yang ke dua cuma obsesi. Menurut aku saling menyayangi itu adalah ketulusan, keikhlasan, dan bukan paksaan..

04 Maret 2008

DAMPAK PSIKOLOGIS MASA PUBERTAS

Secara biologis, pubertas dapat dikatakan sebagai masa dimana sel-sel dan hormon-hormon berkembang dengan cepat, terutama hormon reproduksi. Hormon reproduksi mulai berfungsi dan siap untuk menjalankan tugas dan fungsinya. Secara teoritis, masa pubertas adalah suatu periode dalam perkembangan yang dijalani seseorang yang terbentang sejak berakhirnya masa kanak-kanak hingga datangnya masa awal masa dewasa. Oleh karena itu, terdapat keragaman dalam menetapkan batasan dan ukuran tentang kapan dimulainya dan kapan berakhirnya masa pubertas itu. Pada umumnya masa pubertas pada anak perempuan dimulai sejak umur 11-14 tahun dan ditandai dengan menstruasi. Sedangkan pada anak laki-laki pubertas dimulai sejak umur 12-15 tahun dan ditandai dengan mimpi basah (polusi) pada pertama kali. Tidak jarang pada anak perempuan maupun pada anak laki-laki mulainya masa pubertas ini terjadi lebih lambat. Hal ini bukan disebabkan karena kelainan melainkan hanya keterlambatan sistem hormon-hormonnya saja. Pubertas berakhir setelah seseorang menginjak usia dewasa awal, yaitu ketika seorang individu tersebut telah selesai melakukan tugas-tugas perkembangan pada masa remajanya. Ketika hormon-hormon reproduksi sudah sangat siap dan matang untuk menjalankan fungsinya. Masa dewasa awal terjadi baik pada anak perempuan ataupun pada anak laki-laki, ketika mereka menginjak umur 19-20 tahun.

Anak yang mengalami pubertas laju perkembangannya secara umum berlangsung sangat pesat dan sangat menonjol perubahan fisiknya. Proporsi ukuran tinggi dan berat badan sering kurang seimbang, termasuk otot-otot dan tulang belulangnya. Kemudian yang terlihat dengan jelas adalah munculnya ciri-ciri sekunder. Yaitu pada anak perempuan tumbuh bulu-bulu halus pada daerah tubuh tertentu, terlihat payudara yang mulai tumbuh dan postur tubuhnya terlihat berisi dan lebih besar daripada postur tubuh anak laki-laki seusianya (karena memang perempuan mengalami pubertas lebih awal daripada laki-laki). Sedangkan pada anak laki-laki, yaitu perubahan yang terlihat jelas adalah munculnya bulu pada daerah tubuh tertentu, munculnya jakun pada lehernya, suara berubah menjadi lebih berat (karena sebelum laki-laki mengalami pubertas, suaranya hampir sama dengan suara perempuan), postur tubuhnya berkembang dengan cepat sehingga melebihi postur tubuh perempuan. Kemudian, tidak jarang timbul bercak dan jerawat pada wajah mereka. Baik itu laki-laki maupun perempuan.

Selain aspek fisik tersebut, pubertas juga membawa dampak psikologis. Para orang tua atau masyarakat cenderung menilai para remaja yang sedang mengalami pubertas selalu mambuat tingkah polah yang “aneh-aneh” dan negatif. Padahal sebetulnya tidak selamanya masa pubertas membawa dampak psikologis yang negatif. Seperti anak yang mengalami masa pubertas kecakapan dasar intelektual umumnya menjalani laju perkembangan yang terpesat; proses berfikirnya sudah mampu mengoperasikan kaidah-kaidah logika formal; penghayatan kehidupan keagamaan sehari-hari dilakukannya sudah didasari atas pertimbangan dari dirinya sendiri, bukan lagi atas tuntuntan-tuntutan dari luar; dan lebih berempati terhadap orang lain. Selain dampak positif tersebut, memang tidak dapat dipungkiri bahwa terdapat pula dampak negatif yang ditimbulkan oleh masa pubertas para remaja. Seperti, cenderung bersifat pembangkang dan nakal, ini dikarenakan adanya sifat ingin bebas dan melepaskan diri dari orang tua; reaksi-reaksi dan ekspresi emosinya masih labil dan belum terkendali seperti pernyataan marah, gembira, atau kesedihannya masih dapat berubah-ubah dalam tempo yang cepat. Selain itu juga, terdapat beberapa sifat yang sebetulnya wajar, tetapi karena kekhawatiran yang berlebihan dari para orang tua, jadi dianggap sebagai dampak yang negatif. Seperti, anak tersebut merasa sudah dewasa dan mempunyai keinginan yang besar untuk berkuasa. Jadi menyebabkan ia lebih suka bergaul dengan orang yang lebih dewasa; sudah mulai menyukai lawan jenis; kemudian si anak mulai menggemari literatur yang bernafaskan dan mengandung segi erotik dan fantastik.

Masa pubertas merupakan masa kritis. Dalam menghadapi krisis identitasnya sangat dipengaruhi oleh kondisi psikososialnya yang akan membentuk kepribadiannya. Bagaimana agar menciptakan kepribadian yang baik dan identitas yang positif bagi anak tersebut? Ini merupakan upaya dari para orang dewasa dalam mengikuti perkembangan masa pubertas anak tersebut. Jadi orang dewasa mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam membentuk kepribadiannya. Apabila orang dewasa tidak dapat mengikuti perkembangan masa pubertas pada anak remaja, maka perkembangan remaja tersebut akan terhambat dan tidak berjalan dengan baik. Khususnya pada aspek psikologis. Seperti, apabila seorang remaja yang yang sedang berkembang, tetapi masih dianggap dan diperlakukan seperti anak-anak oleh orang tuanya. Maka anak tersebut, akan menjadi kekanak-kanakan dan manja jika ia menginjak dewasa. Selain itu orang dewasa juga memerlukan kesabaran dan pengertian penuh dalam menghadapi anak tersebut, supaya ia tidak terjebak dalam “lubang hitam” dalam pencarian identitas dirinya. Anak harus memiliki lingkungan yang kondusif. Haruslah diperhatikan lingkungan yang terkecil dulu, yaitu keluarga. Jagalah lingkungan keluarga yang sejahtera, jagalah komunikasi antar anggota keluarga, dan hindarkan konflik antara anggota keluarga. Hal ini haruslah diperhatikan agar anak merasa betah di rumah, dan tidak mencari pelarian ke dunia luar. Setelah itu para orang tua juga haruslah membimbing anak-anaknya supaya mereka tidak salah bergaul.

14 Februari 2008

HELPING SKILLS FOR UNDERSTANDING

Keterampilan Untuk Memahami Orang Lain

1. Listening Skills (Keterampilan Mendengarkan)

Mendengarkan adalah suatu aktivitas yang sangat aktif dalam merespon semua pesan. Sebagai helper, mendengarkan tidak hanya mendengarkan kata-kata helpee tetapi juga melihat bahasa tubuh helpee.

Keterampilan mendengarkan meliputi:

  1. Attending (Memperhatikan), meliputi:

· Kontak melalui mata. Kontak mata merupakan salah satu sarana untuk melakukan komunikasi. Dari kontak mata dapat diketahui tentang perasaan seseorang dan dapat diperoleh pesan non verbal. Dalam kontak mata perlu memperhatikan jarak antara helper dan helpee, agar helpee merasa nyaman.

· Sikap badan. Helper perlu bersikap santai agar dapat berempati terhadap apa yang dirasakan oleh helpee. Sikap helper yang tegang akan mengubah perhatian helpee, sehingga helpee akan ikut tegang.

· Gesture/gerak isyarat. Komunikasi dapat meliputi gerakan-gerakan badan. Pesan bisa dikirimkan oleh helpee melalui gerakan-gerakan isyarat dan sikap badan.

· Verbalisasi dari helper. Yang dikatakan oleh helper berhubungan dengan apa yang dikatakan oleh helpee. Helper menegaskan pernyataan dari helpee dan megambil intinya. Suatu penegasan dapat membantu helpee untuk bercerita lebih banyak, seperti “saya tahu maksud anda”.

  1. Paraphasing (Menyusun pesan)

Paraphasing adalah suatu metoda untuk mengemukakan kembali pesan-pesan helpee secara mendasar. Helper menyimpulkan data-data dari apa yang dikatakan oleh helpee ke dalam kata-kata yang lebih tepat dengan mengulangi pesan-pesan dari helpee tanpa menambahkan ide-ide baru. Petunjuk untuk melakukan Paraphasing: (a) Mendengarkan dasar pesan dari helpee; (b) Menyatakan kembali secara singkat apa dasar dari pesan helpee; (c) Mengamati suatu isyarat, atau meminta suatu respon dari helpee untuk menegaskan atau menolak keakuratan dan kegunaan dari paraphrase untuk lebih memahami helpee.

  1. Clarifying (Menjelaskan)

Menjelaskan akan membawa dari topic yang tidak jelas ke topic yang lebih jelas. Dengan clarifying akan didapat pernyataan yang jelas dan singkat dari helpee. Petunjuk untuk melakukan Clarifying: (a) Mengakui adanya kebinguangan dari maksud helpee; (b) Mencoba menguraikan dengan cara lain atau meminta kejelasan, mengulangi atau menjelaskan.

  1. Perception checking

Merupakan aktivitas bertanya untuk memperoleh umpan balik dari helpee tentang ketepatan dari apa yang helper dengar. Perception checking yang sering akan membantu dalam membentuk komunikai yang terarah. Pedoman untuk perception checking: (a) Ungkapkan kembali apa yang didengar dan dipikirkan dengan kata-kata/kalimat yang lain; (b) Bertanya secara langsung untuk memastikan ketepatan dari apa yang didengar; (c) Biarkan helpee membenarkan persepsi helper jika tidak tepat.

2. Leading Skills (Keterampilan Mengarahkan)

Tujuan Leading (mengarahkan) adalah: Mendorong helpee berespon untuk memulai pembicaraan, Mendorong helpee untuk mengeksplorasi dan menguraikan perasaannya, Membiarkan helpee mengolah perasaannya dalam berbagai arah yang bervariasi dan berespon secara bebas terhadap apa yang sedang berlangsung, dan Mendorong helpee untuk aktif dalam proses wawancara dan menerima tanggung jawab dalam proses itu.

Keterampilan mengarahkan meliputi:

  1. Indirect leading (Pengarahan tidak langsung)

Tujuannya adalah agar helpee mau memulai dan bertanggung jawab dalam pelaksanaan wawancara. Pedoman untuk Indirect leading: (a) Menentukan tujuan pengarahan yang jelas; (b) Menjaga pengarahan tetap umum dan samar-samar; (c) Memberi waktu bagi helpee untuk mencernakan pengarahan itu.

  1. Direct leading (Pengarahan langsung)

Adalah metode untuk memusatkan topic secara lebih spesifik. Metode ini juga membantu helpee menguraikan, menjelaskan atau menggambarkan apa yang telah mereka katakan. Pedoman untuk Direct leading: (a) Menentukan tujuan pengarahan; (b) Mengekspresikan tujuan dalam kata-kata untuk memperoleh penjelasan yang spesifik; (c) Membiarkan helpee bebas mengikuti pengarahan helper.

  1. Focusing (memusatkan)

Pemusatan pembicaraan tentang suatu pokok bahasan yang menurut helper akan bermanfaat. Focusing cenderung mengurangi kebingungan, difusi dan kekaburan helpee. Pedoman untuk Focusing: (a) Gunakan perasaan helpee sebagai arah pemusatan pembicaraan; (b) Bersiaga terhadap umpan balik dari helpee tentang topic yang diprioritaskan; (c) Bantu helpee untuk melihat dengan jelas perasaan yang tersembunyi selama diskusi.

  1. Questioning (Bertanya)

Pedoman untuk Qoestioning: (a) Pertanyaan terbuka dan tidak dapat dijawab iya atau tidak; (b) Pertanyaan memancing perasaan helpee dan bukan untuk memperoleh informasi.

3. Reflecting Skills

Merupakan cara untuk menyatakan kepada helpee bahwa helper berada pada kerangka pemikiran yang sama dan menaruh perhatian penuh. Tujuan utama Reflecting adalah untuk mengerti pengalaman helpee dan mengatakan kepadanya bahwa helper memcoba mempersepsi dunia sama seperti helpee.

Tiga area dari Reflecting, yaitu:

  1. Reflecting feelings

Tujuannya adalah untuk memusatkan pada perasaan. Helpee seringkali tidak dapat mengungkapkan perasaannya, sebab perasaan lebih tak dikenal dibandingkan dengan emosi.

  1. Reflecting experience

Refleksi ini menguraikan umpan balik yang mengindikasikan keluasan observasi helper.

  1. Reflecting content

Merupakan suatu pengulangan kata pokok gagasan dari helpee. Reflecting content digunakan untuk memperjelas gagasan yang dusampaikan helpee. Helper dapat membantu menggambarkan gagasan yang hendak disampaikan helpee dengan cara memberikan penekanan pada kata-kata kunci.

Pedoman untuk Reflecting: (a) Baca keseluruhan pesan, keadaan perasaaan, non verbal body; (b) Pilih content dan feeling yang memenuhi tujuan pemahaman pada proses menolong; (c) Gambarkan pengalaman yang dirasakan.

4. Summarizing Skills (Keterampilan Merangkum)

Keahlian merangkum meliputi atensi pada apa yang dikatakan helpee (content), bagaimana ia berkata (perasaan), tujuan, waktu serta efek dari pernyataan (proses). Maksud utama dari merangkum adalah memperlihatkan pada helpee pergerakan perasaan dalam mengeksplorasi ide dan perasaannya sebagaimana peningkatan kesadarannya dalam belajar dan pemecahan masalah. Efek dari merangkum adalah menenangkan helpee, dan helper dapat mengetahui ketepatan persepsinya terhadap spectrum dari pesan yang disampaikan helpee. Pedoman untuk Summarizing: (a) Ikuti variasi tema dan nada emosional dari pembicaraan helpee; (b) Meletakan bersama-sama gagasan dan perasaan dalam kalimat pokok sebagai dasar pemaknaan; (c) Jangan menambah ide baru untuk merangkum; (d) Tentukan apakah lebih membantu, menyatakan rangkuman helper atau menanyakan pada helpee rangkuman tema-tema, persetujuan atau rencananya.

5. Confronting Skills (Keterampilan Konfrontasi)

Gagasan dan konfrontasi ini adalah untuk mendapat pengakuan secara jujur dan langsung; untuk menunjukkan apa yang akan terjadi dan diduga akan terjadi.

Keterampilan konfrontasi ini mengandung resiko, salah satunya adalah penolakan helpee untuk melakukan komunikasi secara terbuka. Hal ini tergantung pada kesiapan helpee untuk dihadapkan dengan feedback yang jujur.

Pembentukan konfrontasi meliputi sejumlah keterampilan menolong yang kompleks, terdiri dari:

a. Recognizing feeling

Pengakuan perasaan dalam diri seseorang sebagai helper. Kemampuan seseorang untuk mengakui dan menanggapi perasaan helpee didasari oleh kemampuan untuk mengakui perasaannya sendiri. Helper harus mempunyai dua penilaian, yaitu apakah kejengkelan merupakan petunjuk problem yang tengah dihadapi atau hal ini hanya merupakan reaksi yang wajar terhadap apayang dikatakan helpee.

b. Describingand sharing feeling

Gambarkan perasaan dalam diri seseorang dan berbagi rasa dengan helpee. Helper membantu memberikan gambaran bagaimana helper merasakan perasaan dalam diri helpee. Hal ini merupakan suatu model bagi helpee untuk mengakui dan menyampaikan perasannya. Adanya kepercayaan bergantung pada keterbukaan dalam berbagi rasa. Helper dapat mempercepat proses pembangunan kepercayaan melalui berbagi rasa tentang perasaan dirinya. Keterbatasan dari penyampaian perasaan secara bebas oleh helpee, akan menyebabkan mereka merasa tidak perlu menyelesaikan masalahnya. Kebanyakan helpee melakukan pertahanan diri untuk mencegah diri menyatakan perasaan lebih dari toleransi yang dimilikinya. Helper harus peka untuk mengetahui kapan kapan helper banyak melakukan defence (ketika tingkah laku helpee memburuk, dan dalam waktu lama melakukan katarsis emosional).

c. Feeding back and opinion (umpan balik dan pandapat)

Pemberian umpan balik dalam bentuk pendapat tentang tingkah lakunya. Helper memberi informasi dalam bentuk opini dan reaksi kepada orang yang meminta bantuan, sehingga helpee memiliki ide yang lebih baik tentang bagaimana berperilaku, dan mereka dapat menggunakan informasi ini untuk merubah tingkah lakunya. Pedoman untuk melakukan feedback: (a) Berikan pendapat dalam bentuk feedback pada saat helpee siap. Ketika helpee tidak siap hanya akan membangkitkan perlawanan, kemarahan, atau penolakan, karena hal itu tidak sesuai dengan alur pendapat helpee; (b) Gambarkan suatu tingkah laku sebelum memberikan reaksi. Helper seringkali sulit untuk menentukan kapan feedback itu merupakan proyeksi dari masalah pribadi dan kapan hal itu merupakan reaksi yang didapat dari helpee. Feedback harus diberikan secara hati-hati dan dengan pemahaman yang jelas. Dengan menjaga reaksi yang bersifat deskriptif daripada yang evaluatif, membuat helpee bebas menggunakan reaksi-reaksi tersebut sebagaimana adanya; (c) Berikan feedback dalam bentuk pendapat tentang tingkah laku bukan keputusan tentang person; (d) Berikan feedback mengenai kapasitas yang dimiliki untuk berubah; (e) Feedback diberikan dalam kadar yang kecil, sehingga helpee dapat mengalami secara penuh pengaruh dari reaksi helper; (f) Feedback hendaknya merupakan bentuk respon terhadap tingkah laku yang spesifik yang terjadi saat itu, bukan terhadap urusan emosional yang belum selesai pada masa lampau; (g) Helper hendaknya meminta helpee untuk menanggapi feedback.

d. Meditating

Suatu bentuk penekanan dan penjelasan. Meditasi membuka kemungkinan bagi kesadaran diri dalam relasi dengan dunia, yang merupakan suatu proses yang berbeda dari proses sensori yang biasa disadari. Helpee yang berganti-ganti topic dan yang kesulitan merasakan perasaan mereka, dapat ditolong melalui beberapa jenis meditasi. Helper dapat meminta helpee untuk berhenti bicara, menutup mata, memperoleh posisi yang nyaman, dan dalam beberapa saat helper dapat meminta helpee untuk menfokuskan diri pada pernafasan, bagaimana mereka menghirup dan menghela nafas dan membiarkan lompatan ide-ide melintasi kesadaran mereka yang mulai memudar.

e. Repeating (pengulangan)

Suatu bentuk penekanan dan penjelasan. Helpee hanya diminta mengulangi satu kata, frase, atau kalimat pendek dalam satu waktu. Tujuannya adalah untuk membangkitkan perasaan yang dihubungkan dengan berbagai kata. Helper meminta helpeeuntuk mendengarkan apa yang ucapkan secara emosional melalui pengulangan-pengulangan. Kemudian mereka mendiskusikan perasaan-perasaan yang diendapkan atau perasaan yang keluar. Dengan pengulangan, helpee dapat membuka tabir perasaan yang tidak jelas dan topic yang tetap pun akan berubah, ini akan menimbulkan perasaan-perasaan yang mendalam.

f. Associating

Suatu metode untuk memperoleh sentuhan perasaan. Helpee dianjurkan untuk mengatakan apapun yang terlintas dalam kesadaran. Tujuannnya adalah agar helpee terbebas dari pernyataan-pernyataan yang tidak tepat, logic, direncanakan, dan lebih kepada perasaan-perasaan yang tidak jelas dan tidak logic. Hasil utama yang diharapkan adalah suatu kebebasan dari perasaan sehingga helpee dapat berdiskusi langsung. Pedoman keterampilan asosiasi: (a) Meminta helpee mengatakan apa yang hadir dalam kesadarannya; (b) Jelaskan bahwa loncatan ide-ide tidak perlu bersifat logic atau konsisiten; (c) Gunakan akibat-akibat untuk menolong helpee mengeksplorasi labih lanjut perasaannya atau diskusikan akibat dari asosiasi mereka; (d) Sebagai suatu variasi, ambilah satu kata dengan kemungkinan adanya unsure emosional yang signifikan dari penyataan helpee dan mereka untuk mengatakannya secara bebas semua pemikiran dan perasaan yang terbangkitkan oleh kata tersebut secepat pikiran dan perasaan itu hadir.

6. Interpreting Skills (Keterampilan Menginterpretasi)

Menginterpretasi adalah proses aktif helper untuk menerangkan arti kejadian-kejadian kepada helpee sehingga mereka dapat melihat masalahnya dalam cara yang baru. Tujuan utamanya adalah mengajar helpee untuk mengartikan sendiri kejadian-kejadian hidupnya. Interpretasi kadang-kadang diberikan dalam rumusan beberapa teori khusus tentang kepribadian yang dikuasai helper. Biasanya diungkapkan sebagai hipotesa atau dugaan tentang apa yang terjadi. Menginterpretasi berarti helper mengarahkan helpee untuk mencari pengertian dan persepsi yang lebih luas mengenai perasaan mereka. Tujuan dari seluruh interpretasi adalah interpretasi diri oleh helpee dan meningkatkan kemampuan helpee untuk bertindak efektif.

a. Interpretive questions (Penafsiran pertanyaan)

Beberapa interpretasi dilakukan dalam bentuk pertanyaan. Pertanyaan yang menyatakan (secara tidak langsung) kualitas sementara pernyataan dan membuat interpretasi dengan sedikit resiko untuk helper.

b. Fantasy and metaphor

Cara lain mengenal interpretasi adalah bentuk fantasi (day dream), dan penggunaan bahasa gambar metafora. Interpretasi terdapat pada suatu kontinum dari refleksi helper berada pada tingkat pemahaman dan perasaan helpee, keterangan teoritis tidak dapat melalui interpretasi lebih lanjut. Interpretasi ini belum menggali lebih dalam lagi psikis helpee dan memunculkan insight brillian untuk membuka mesteri kepribadiannya. Pedoman interpreasi meliputi: (a) Carilah pesan pokok yang dikemukakan oleh helpee; (b) Ungkapan kembali pesan itu kepada helpee; (c) Tambahkan pemahaman helper; (d) Gunakan bahasa yang sederhana dan setaraf dengan pesan utama tersebut; (e) Perkenalkan gagasan helper sebagai gagasan sementara.

7. Informing Skills (Keterampilan Memberikan Keterangan)

Penyaringan terhadap informasi perlu mendapatkan perhatian, karena terkadang keterangan yang tidak perlu bagi helpee diberikan.

Advising (Menasehati)

Memberi nasehat adalah aktivitas helper memberikan informasi. Helpee mengharapkan pernyataan dalam nada menasehati atas apa yang telah terjadi, seringkali mempercayai peran helper sebagai seorang ahli. Namun tak jarang helpee mempermasalahkan helper karena nasehat yang diberikan tidak mampu memecahkan masalahnya.